Jakarta, 13 September 2026 – Menteri Perdagangan mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk semakin menguasai teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari strategi memperluas pasar. Perkembangan teknologi digital dinilai telah mengubah cara konsumen mencari produk, berkomunikasi dengan penjual, hingga melakukan transaksi. Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM perlu beradaptasi agar tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin kompetitif. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai aktivitas usaha, mulai dari pembuatan materi pemasaran hingga membaca kecenderungan kebutuhan konsumen. Teknologi tersebut juga dapat membantu pelaku usaha bekerja lebih cepat tanpa harus mempunyai tim dalam jumlah besar. Penguasaan teknologi pada akhirnya diharapkan membuat produk UMKM Indonesia semakin mudah menjangkau konsumen nasional maupun pasar internasional.
Pemanfaatan AI menjadi semakin relevan karena pemasaran produk kini tidak lagi hanya bergantung pada toko fisik. Media sosial, lokapasar, dan berbagai saluran perdagangan digital telah memberikan kesempatan kepada usaha berskala kecil untuk bertemu konsumen dari berbagai daerah. Namun, besarnya jumlah produk yang ditawarkan melalui platform digital membuat persaingan mendapatkan perhatian konsumen semakin ketat. UMKM harus mampu membuat foto produk, deskripsi, materi promosi, serta strategi komunikasi yang menarik. Teknologi AI dapat membantu mempercepat sebagian pekerjaan tersebut apabila digunakan dengan tepat. Pelaku usaha tetap mempunyai peranan utama dalam memastikan hasil yang dibuat sesuai dengan karakter produk dan kebutuhan konsumennya.
Salah satu pemanfaatan AI yang relatif mudah diterapkan UMKM adalah dalam pembuatan konten pemasaran. Pelaku usaha dapat menggunakan teknologi untuk membantu menyusun ide promosi, membuat rancangan deskripsi produk, atau mengembangkan konsep kampanye digital. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang dapat diselesaikan lebih cepat sehingga pemilik usaha mempunyai lebih banyak waktu untuk mengurus produksi dan pelayanan konsumen. Meski demikian, hasil dari sistem AI tetap perlu diperiksa sebelum digunakan. Informasi mengenai harga, bahan, ukuran, manfaat, dan karakteristik produk harus tetap akurat. Penggunaan teknologi seharusnya meningkatkan produktivitas tanpa mengurangi kepercayaan konsumen terhadap informasi yang diberikan.
AI juga dapat membantu UMKM memahami data penjualan dengan lebih baik. Catatan mengenai produk yang paling banyak terjual, periode peningkatan transaksi, hingga pola pembelian pelanggan dapat diolah menjadi informasi yang berguna dalam mengambil keputusan. Pelaku usaha kemudian dapat menentukan produk yang perlu ditambah produksinya atau jenis barang yang permintaannya mulai menurun. Pendekatan berbasis data dapat mengurangi keputusan yang hanya mengandalkan perkiraan. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika skala usaha mulai berkembang dan jumlah transaksi bertambah. Dengan pengelolaan yang tepat, data sederhana yang dimiliki UMKM dapat menjadi salah satu aset penting untuk meningkatkan daya saing.
Kemampuan menjangkau pasar internasional juga dapat terbantu oleh perkembangan AI. Hambatan bahasa selama ini menjadi salah satu tantangan bagi sebagian pelaku UMKM ketika ingin menawarkan produk kepada konsumen luar negeri. Teknologi penerjemahan berbasis AI dapat membantu menyusun komunikasi awal dalam berbagai bahasa dengan lebih cepat. Pelaku usaha juga dapat memanfaatkannya untuk memahami informasi dasar mengenai karakter pasar dan preferensi konsumen di negara tujuan. Namun, proses ekspor tetap membutuhkan pemahaman mengenai regulasi, standar produk, logistik, pembayaran, serta ketentuan perdagangan. AI dapat menjadi alat pendukung, sedangkan keputusan bisnis tetap membutuhkan verifikasi dan pemahaman manusia.
Dorongan agar UMKM menguasai AI juga berkaitan dengan besarnya kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian Indonesia. UMKM menjadi tempat bergantung bagi jutaan masyarakat sekaligus memainkan peranan penting dalam penciptaan lapangan kerja. Karena itu, transformasi digital UMKM mempunyai dampak yang lebih luas daripada sekadar peningkatan penjualan individual. Ketika lebih banyak usaha mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk, dan jangkauan pasar, aktivitas ekonomi daerah juga dapat ikut berkembang. Teknologi memberikan kesempatan bagi produk dari daerah untuk dikenal konsumen tanpa harus terlebih dahulu mempunyai jaringan toko di kota-kota besar. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan agar digitalisasi menghasilkan pemerataan kesempatan usaha.
Meski menawarkan banyak peluang, penerapan AI pada UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan. Tingkat literasi digital pelaku usaha berbeda-beda sehingga tidak seluruhnya dapat langsung menggunakan teknologi baru secara efektif. Sebagian UMKM juga masih menghadapi persoalan dasar seperti akses internet, perangkat, kemampuan pemasaran digital, dan pencatatan keuangan. Karena itu, pengenalan AI perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata pelaku usaha. Pelatihan yang terlalu teknis dapat sulit diterapkan apabila tidak dihubungkan dengan pekerjaan sehari-hari. Pendampingan praktis menjadi penting agar teknologi benar-benar memberikan manfaat terhadap produktivitas dan penjualan.
Keamanan data juga perlu menjadi perhatian ketika UMKM mulai menggunakan berbagai layanan berbasis AI. Pelaku usaha sebaiknya memahami bahwa tidak semua informasi bisnis perlu dimasukkan ke dalam layanan digital pihak lain. Data pelanggan, kata sandi, informasi rekening, strategi bisnis rahasia, serta dokumen yang bersifat sensitif perlu dilindungi. Penggunaan teknologi harus dibarengi kemampuan memahami risiko keamanan siber dan perlindungan data. UMKM juga perlu berhati-hati terhadap hasil AI yang terlihat meyakinkan tetapi sebenarnya mengandung informasi keliru. Kebiasaan melakukan pemeriksaan ulang menjadi bagian penting dari literasi AI yang perlu dikembangkan.
Pemerintah mempunyai peranan penting dalam membantu UMKM melewati proses transformasi tersebut. Pelatihan dapat diarahkan tidak hanya pada cara menggunakan sebuah aplikasi, tetapi juga bagaimana teknologi diterapkan untuk menyelesaikan persoalan bisnis. Kolaborasi dengan platform digital, perguruan tinggi, komunitas, dan perusahaan teknologi dapat memperluas akses terhadap pengetahuan. Program pendampingan juga perlu menjangkau UMKM di luar kota besar agar manfaat perkembangan teknologi tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Selain kemampuan digital, peningkatan kualitas produk dan standar produksi tetap harus berjalan bersamaan. Teknologi pemasaran yang baik akan memberikan hasil lebih maksimal ketika didukung produk yang mampu memenuhi ekspektasi konsumen.
Penguasaan AI pada akhirnya menjadi salah satu kemampuan yang semakin relevan bagi UMKM untuk menghadapi perubahan perdagangan. Teknologi tersebut dapat membantu pemasaran, pelayanan pelanggan, pengolahan data, penerjemahan, hingga pengembangan ide produk dengan proses yang lebih efisien. Namun, AI tidak menggantikan kebutuhan terhadap kreativitas, kualitas produk, pelayanan, serta pemahaman pelaku usaha mengenai konsumennya. Dorongan Menteri Perdagangan agar UMKM semakin memahami AI menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing usaha nasional di tengah percepatan ekonomi digital. Tantangannya adalah memastikan teknologi dapat digunakan secara praktis, aman, dan memberikan dampak langsung terhadap perkembangan usaha. Jika kemampuan tersebut dapat diperluas hingga ke berbagai daerah, AI berpotensi menjadi salah satu alat yang membantu UMKM Indonesia menembus pasar yang jauh lebih luas.