Pekanbaru, 11 September 2026 – Polda Riau terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan memanfaatkan teknologi selain mengandalkan pemadaman konvensional oleh personel darat. Setelah menggunakan cairan X-Fire untuk membantu memadamkan api dan bara di lahan gambut, kepolisian juga mengoperasikan drone untuk memantau sekaligus mendukung proses pemadaman dari udara. Teknologi tersebut digunakan karena sejumlah lokasi kebakaran berada di kawasan yang sulit dijangkau dan memiliki karakter lahan gambut yang membuat api dapat bertahan di bawah permukaan. Drone memungkinkan petugas mengetahui posisi titik api maupun asap sebelum tim darat bergerak menuju lokasi. Informasi dari udara juga membantu menentukan bagian lahan yang harus mendapatkan penanganan terlebih dahulu. Kombinasi X-Fire, drone, dan personel darat diharapkan membuat proses penanganan karhutla berlangsung lebih cepat sekaligus mengurangi risiko api kembali muncul setelah pemadaman.
Pengoperasian drone dilakukan jajaran Polda Riau bersama kepolisian di sejumlah wilayah yang menghadapi kebakaran lahan. Di Indragiri Hulu, Polres setempat bersama Tim Drone Polda Riau menggunakan pesawat tanpa awak untuk membantu pemantauan dan penanganan titik kebakaran. Perangkat tersebut diterbangkan di atas kawasan terdampak untuk memberikan gambaran mengenai luas area, arah pergerakan asap, serta lokasi yang masih membutuhkan pemadaman. Penggunaan teknologi udara memberikan keuntungan karena petugas dapat melihat kondisi secara lebih luas dibandingkan pemantauan dari permukaan tanah. Pada kawasan gambut, asap yang terlihat dari udara juga dapat menjadi petunjuk bahwa masih terdapat bara meskipun kobaran api sudah tidak tampak. Informasi itu kemudian digunakan untuk mengarahkan personel dan perlengkapan pemadaman ke titik yang membutuhkan pendinginan lanjutan.
Polda Riau sebelumnya juga menggunakan drone dalam penanganan karhutla di Kabupaten Siak. Teknologi yang dioperasikan terdiri atas drone pemantauan dan perangkat yang dapat mendukung proses pemadaman. Drone surveillance digunakan untuk mendeteksi serta memetakan lokasi kebakaran, sedangkan drone pemadam diarahkan untuk membantu penanganan pada titik yang sulit dijangkau personel. Pendekatan tersebut membuat operasi dapat dilakukan dengan lebih terukur karena petugas terlebih dahulu memperoleh gambaran kondisi medan. Dalam kebakaran yang berlangsung di wilayah luas, pemetaan menjadi penting agar sumber daya tidak terkonsentrasi hanya pada titik yang terlihat dari jalur darat. Teknologi udara juga membantu petugas mengevaluasi apakah api telah benar-benar terkendali setelah penyemprotan dilakukan.
Selain drone, inovasi X-Fire menjadi salah satu metode yang kini diuji dan digunakan untuk menghadapi karakter kebakaran gambut di Riau. Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan bersama Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara dan tim Staf Logistik Mabes Polri meninjau langsung penggunaan formula tersebut di Desa Sering, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, pada Kamis. Kawasan tersebut masih mengeluarkan asap meskipun kobaran utama sebelumnya telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. Kondisi itu menunjukkan masih terdapat panas dan bara pada lapisan gambut yang membutuhkan proses pendinginan lebih lanjut. X-Fire kemudian digunakan untuk membantu air menjangkau lapisan terbakar dan mempercepat penurunan temperatur. Metode penyemprotan dilakukan secara menyeluruh pada bagian yang masih mengeluarkan asap hingga petugas memastikan kondisi semakin terkendali.
Formula X-Fire yang digunakan dalam operasi memiliki beberapa jenis dengan mekanisme penggunaan berbeda. Salah satu formulanya dicampurkan dengan air sebelum disemprotkan ke lahan yang terbakar, sementara jenis lainnya dapat digunakan secara langsung sesuai kebutuhan penanganan. Dalam simulasi di Pelalawan, bahan dicampurkan ke dalam air hingga membentuk larutan sebelum dialirkan melalui perangkat penyemprotan menuju titik yang masih mengeluarkan asap. Penyemprotan dilakukan dengan pola yang dirancang agar cairan dapat menjangkau permukaan secara merata sekaligus membantu penetrasi menuju lapisan gambut. Teknologi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan air dalam melakukan pendinginan sekaligus menghambat kondisi yang memungkinkan api kembali muncul. Sebanyak 300 jeriken X-Fire berkapasitas masing-masing 20 liter turut disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla di Kabupaten Pelalawan.
Efisiensi penggunaan air menjadi salah satu alasan teknologi tersebut dikembangkan. Pemadaman kebakaran gambut membutuhkan volume air sangat besar karena petugas tidak cukup hanya menghilangkan kobaran yang terlihat di permukaan. Air harus mampu mencapai bagian tanah yang masih menyimpan panas sehingga bara benar-benar berhenti. Pada lokasi yang jauh dari kanal, sungai, atau sumber air lainnya, kebutuhan tersebut menjadi tantangan karena petugas harus memasang pompa dan selang dalam jarak panjang. Formula pemadam diharapkan membantu meningkatkan efektivitas air sehingga proses pembasahan dapat dilakukan lebih optimal. Namun, keberhasilan penggunaannya tetap harus dievaluasi berdasarkan kondisi lapangan, termasuk kedalaman gambut, luas kebakaran, temperatur, dan karakter vegetasi.
Drone kemudian melengkapi metode tersebut melalui fungsi pemantauan setelah pemadaman dilakukan. Kamera udara dapat digunakan untuk memeriksa area yang sebelumnya terbakar dan menemukan asap tipis maupun indikasi titik panas yang mungkin terlewat oleh personel darat. Pengalaman penanganan karhutla di Kerumutan, Pelalawan, menunjukkan pemantauan drone tetap dilakukan meskipun selama beberapa hari tidak lagi ditemukan titik api. Dari udara, petugas masih menemukan asap tipis pada beberapa bagian sehingga pengawasan tidak langsung dihentikan. Pendekatan tersebut penting karena kebakaran gambut memiliki risiko muncul kembali setelah terlihat padam. Dengan pemantauan berkala, personel dapat segera dikirim apabila ditemukan perubahan kondisi yang mengarah pada munculnya kembali api.
Karakter lahan gambut memang menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla di Riau. Material organik yang menumpuk selama waktu sangat panjang dapat terbakar hingga ke lapisan bawah tanah dan menghasilkan bara yang bertahan lama. Api bahkan dapat bergerak melalui rongga gambut sehingga muncul kembali beberapa meter dari lokasi awal tanpa terlihat jalur pembakarannya dari permukaan. Situasi tersebut membuat petugas harus melakukan proses pendinginan dalam waktu lama setelah kobaran utama berhasil dikendalikan. Kombinasi X-Fire dan drone diarahkan untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni meningkatkan efektivitas pemadaman serta memperkuat pengawasan terhadap kemungkinan titik api tersembunyi. Personel darat tetap menjadi unsur utama untuk memastikan kondisi lapangan secara langsung dan melakukan penanganan lanjutan.
Teknologi tersebut juga tidak menggantikan strategi pencegahan dan penegakan hukum yang dilakukan Polda Riau. Patroli darat, pemantauan titik panas, pemeriksaan lokasi, sosialisasi kepada masyarakat, serta penyelidikan terhadap penyebab kebakaran tetap berjalan. Ketika sistem pemantauan mendeteksi hotspot, petugas harus melakukan verifikasi karena tidak seluruh titik panas otomatis merupakan kebakaran. Apabila ditemukan api, respons cepat diperlukan agar kebakaran tidak berkembang sebelum menjangkau lapisan gambut lebih dalam. Masyarakat dan perusahaan yang berada di sekitar kawasan rawan juga memiliki peran penting untuk memberikan informasi ketika menemukan asap maupun titik api. Penanganan sejak tahap awal jauh lebih efektif dibandingkan ketika kebakaran sudah menyebar ke wilayah luas.
Pemanfaatan drone bersama cairan X-Fire menunjukkan Polda Riau mulai mengombinasikan pendekatan darat dan teknologi dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Drone memberikan kemampuan melihat kondisi dari udara, sementara X-Fire diarahkan untuk membantu proses pemadaman dan pendinginan pada karakter lahan gambut yang sulit ditangani. Hasil penggunaan teknologi tersebut akan terus dievaluasi untuk mengetahui efektivitasnya ketika diterapkan pada kondisi kebakaran yang berbeda. Faktor keselamatan personel, kebutuhan air, kecepatan pemadaman, kemungkinan api kembali muncul, serta dampak terhadap lingkungan menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam evaluasi. Polda Riau tetap mengandalkan kerja bersama TNI, pemerintah daerah, BPBD, perusahaan, Masyarakat Peduli Api, dan unsur terkait lainnya dalam operasi karhutla. Dengan deteksi yang semakin cepat dan metode pemadaman yang lebih efektif, kebakaran diharapkan dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi bencana asap berskala luas.