Jakarta, 29 September 2026 –
Pemerintah menyiapkan bauran kebijakan untuk mengejar sasaran pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8 persen pada 2029. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan strategi tersebut menggabungkan kebijakan fiskal sebagai katalis, kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pembiayaan, serta investasi sebagai penggerak peningkatan kapasitas produksi. Pemerintah juga mengandalkan keterlibatan Danantara dan sektor swasta untuk mempercepat penanaman modal. Strategi tersebut dijalankan di tengah ketidakpastian perekonomian global yang masih tinggi.
Airlangga menjelaskan pemerintah menghadapi tiga kanal risiko global yang perlu diantisipasi, yakni energi dan logistik akibat konflik geopolitik, perdagangan dan investasi di tengah meningkatnya proteksionisme, serta volatilitas pasar keuangan dan fiskal. Kondisi tersebut membuat penguatan fundamental domestik menjadi semakin penting. Pemerintah karena itu menempatkan investasi, konektivitas, produktivitas, dan efisiensi logistik sebagai bagian penting dari strategi pertumbuhan. Kebijakan tersebut diharapkan membuat perekonomian tetap memiliki daya tahan sekaligus mampu mempercepat ekspansi.
Untuk 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dengan inflasi 2,5 persen. Airlangga menyebut terdapat tiga kondisi utama yang perlu dipenuhi, yakni investasi harus tumbuh lebih cepat dibandingkan produk domestik bruto, produktivitas per pekerja harus meningkat, serta ekspor perlu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dengan dukungan logistik yang efisien. Sasaran 2027 tersebut menjadi salah satu tahapan menuju target pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2029. Pemerintah menilai peningkatan investasi dan produktivitas harus berjalan beriringan agar akselerasi ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pemerintah juga menyiapkan empat strategi utama untuk memperkecil kesenjangan antara pertumbuhan saat ini dan sasaran jangka menengah. Strategi tersebut mencakup deregulasi dan penyelesaian hambatan investasi, penguatan investasi dan pembiayaan, peningkatan produktivitas serta keterampilan tenaga kerja, dan perluasan akses pasar melalui diplomasi ekonomi. Program peningkatan kualitas tenaga kerja antara lain mencakup magang bagi 150.000 peserta dan penguatan kapasitas sekitar 220.000 lulusan vokasi. Pada sektor perdagangan, pemerintah mencatat 25 perjanjian perdagangan telah diimplementasikan dan 13 lainnya masih dalam proses perundingan.
Diversifikasi sumber pertumbuhan turut diarahkan pada sejumlah sektor strategis. Pemerintah menempatkan ekosistem kendaraan listrik, digitalisasi ekonomi, rantai pasok semikonduktor, kecerdasan buatan, pertanian, dan energi sebagai sektor yang berpotensi memperkuat kapasitas ekonomi nasional. Pengembangan ekonomi digital juga didukung melalui ekosistem pusat data, talenta digital, serta penguatan pemanfaatan teknologi. Di sektor energi, ketahanan energi dan pengembangan energi baru terbarukan menjadi bagian dari fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Dari sisi kondisi terkini, pemerintah mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,45 persen secara tahunan pada semester pertama 2026. Inflasi tercatat 3,19 persen pada Agustus, sementara realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun hingga semester pertama tahun ini. Angka tersebut menunjukkan masih terdapat jarak yang cukup besar antara tingkat pertumbuhan saat ini dan sasaran 8 persen. Karena itu, pencapaian target akan bergantung pada kemampuan meningkatkan investasi produktif, kapasitas industri, kualitas sumber daya manusia, dan ekspor bernilai tambah dalam beberapa tahun mendatang.
Target pertumbuhan 8 persen pada 2029 sendiri telah ditempatkan dalam kerangka RPJMN 2025–2029. Pemerintah menilai pencapaiannya membutuhkan sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah serta dukungan investasi dalam skala besar, dengan sektor swasta dan BUMN memegang peran penting dalam pembiayaan pembangunan. Bappenas juga mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan sektor unggulan, mempercepat belanja produktif, memperbaiki konektivitas, dan menyelesaikan hambatan investasi. Dengan demikian, sasaran 8 persen diposisikan sebagai target yang memerlukan kombinasi kebijakan fiskal, moneter, investasi, produktivitas, industrialisasi, perdagangan, dan penguatan sektor-sektor baru secara konsisten hingga 2029.