Jakarta, 9 September 2026 – Peta dunia yang selama ini banyak dikenal masyarakat umumnya menggunakan proyeksi Mercator, sebuah metode pemetaan yang telah digunakan selama berabad-abad dan masih mudah ditemukan pada atlas, buku pelajaran, hingga layanan pemetaan digital. Namun, proyeksi tersebut memiliki kelemahan berupa distorsi ukuran wilayah yang semakin besar ketika mendekati kutub. Equal Earth hadir sebagai salah satu alternatif modern dengan mempertahankan luas relatif daratan dan negara secara lebih proporsional. Proyeksi ini kembali mendapat perhatian setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui sejumlah lembaganya mendorong penggunaan peta yang lebih representatif untuk kebutuhan tertentu. Perbedaan Equal Earth dan Mercator bukan terletak pada mana yang sepenuhnya benar atau salah, melainkan pada tujuan matematis yang diprioritaskan masing-masing proyeksi. Setiap upaya memindahkan permukaan bumi yang berbentuk tiga dimensi ke bidang datar pasti menghasilkan suatu bentuk distorsi.
Equal Earth merupakan proyeksi peta dunia yang diperkenalkan pada 2018 oleh Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny. Ketiganya mengembangkan proyeksi tersebut untuk menghasilkan peta dunia dengan luas wilayah yang tetap proporsional sekaligus memiliki bentuk keseluruhan yang mudah dikenali. Nama Equal Earth berasal dari sifat utamanya sebagai proyeksi equal-area atau luas setara. Artinya, perbandingan luas suatu wilayah pada peta tetap sesuai dengan perbandingan luas sebenarnya di permukaan bumi. Apabila sebuah negara secara geografis memiliki wilayah dua kali lebih luas dibandingkan negara lain, perbandingan luas yang ditampilkan pada peta Equal Earth juga dipertahankan. Karakter tersebut membuatnya berguna ketika peta digunakan untuk membandingkan luas negara, hutan, populasi, penggunaan lahan, perubahan iklim, maupun berbagai data geografis lainnya.
Mercator memiliki tujuan yang berbeda karena proyeksi tersebut dikembangkan oleh kartografer Gerardus Mercator pada 1569 untuk membantu navigasi. Salah satu keunggulan utamanya adalah mempertahankan sudut dan bentuk lokal sehingga arah perjalanan dapat digambarkan dengan relatif konsisten. Garis dengan arah kompas tetap atau rhumb line dapat tampil sebagai garis lurus, karakteristik yang sangat berguna bagi pelaut pada masa navigasi menggunakan peta kertas dan kompas. Karena sifat konformal tersebut, Mercator kemudian menjadi salah satu proyeksi paling berpengaruh dalam sejarah kartografi. Kelemahannya muncul ketika peta digunakan untuk membandingkan luas wilayah. Skala membesar semakin jauh dari khatulistiwa sehingga wilayah yang berada pada lintang tinggi tampak jauh lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya.
Greenland menjadi contoh paling terkenal untuk memahami distorsi tersebut. Pada peta Mercator, Greenland dapat terlihat hampir sebesar Afrika, padahal luas Afrika sekitar 30 juta kilometer persegi sementara Greenland hanya sekitar 2,2 juta kilometer persegi. Dengan demikian, Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih luas daripada Greenland. Distorsi serupa membuat Kanada, Rusia, negara-negara Skandinavia, dan kawasan lain di lintang tinggi terlihat sangat besar. Sebaliknya, wilayah yang berada dekat khatulistiwa seperti sebagian besar Afrika, Indonesia, serta sebagian Amerika Selatan relatif tidak mengalami pembesaran sebesar kawasan dekat kutub. Akibatnya, ketika Mercator digunakan sebagai peta referensi umum, pembaca dapat memperoleh persepsi yang keliru mengenai perbandingan luas antarnegara dan benua. Masalah inilah yang ingin diminimalkan melalui proyeksi equal-area seperti Equal Earth.
Equal Earth mempertahankan proporsi luas dengan mengorbankan sebagian karakteristik lain. Bentuk negara dan benua tetap mengalami perubahan karena tidak mungkin membuat peta datar yang sekaligus mempertahankan luas, bentuk, jarak, dan arah secara sempurna. Pada Equal Earth, wilayah di bagian tepi peta dapat terlihat lebih melengkung dibandingkan Mercator. Garis lintang digambarkan sebagai garis lurus, sementara meridian memiliki bentuk melengkung kecuali meridian tengah. Kutub juga tidak diperlihatkan sebagai wilayah yang melebar tanpa batas seperti pada Mercator. Hasil akhirnya menyerupai bentuk peta dunia oval dengan sisi yang melengkung, tetapi proporsi luas antarwilayah menjadi jauh lebih mendekati kondisi sebenarnya. Desain tersebut sengaja dibuat agar peta tetap memiliki penampilan yang familiar bagi masyarakat meskipun menggunakan prinsip equal-area.
Dukungan terhadap penggunaan peta equal-area semakin menguat karena peta tidak hanya berfungsi menunjukkan lokasi, tetapi juga menjadi alat untuk menyampaikan data. Ketika peta digunakan untuk menggambarkan populasi, kemiskinan, tutupan hutan, emisi, keanekaragaman hayati, produksi pangan, atau dampak perubahan iklim, distorsi luas dapat memengaruhi cara pembaca memahami informasi. Wilayah yang tampak sangat besar secara visual dapat memperoleh perhatian lebih besar meskipun luas sebenarnya jauh lebih kecil. Sebaliknya, kawasan dekat khatulistiwa dapat terlihat kurang dominan ketika dibandingkan dengan negara-negara di lintang tinggi pada Mercator. Proyeksi equal-area mengurangi masalah tersebut karena setiap unit luas memiliki representasi yang konsisten di seluruh peta. Inilah salah satu alasan pendekatan tersebut relevan bagi organisasi internasional yang bekerja dengan data global.
Pada 2026, kampanye penggunaan peta dunia yang lebih proporsional mendapat dukungan dari sejumlah lembaga internasional, termasuk badan-badan yang berada dalam sistem PBB. Equal Earth menjadi salah satu proyeksi yang dipromosikan sebagai alternatif untuk materi yang membutuhkan perbandingan luas secara akurat. Dorongan tersebut bukan berarti Mercator akan dihapus atau dilarang penggunaannya. Mercator masih memiliki fungsi penting, terutama pada navigasi dan aplikasi tertentu yang membutuhkan karakteristik konformal. Versi turunannya, Web Mercator, juga sangat luas digunakan dalam layanan peta digital karena memudahkan penyajian dan pembagian peta menjadi tile ketika pengguna melakukan zoom. Perubahan yang didorong lebih berkaitan dengan pemilihan proyeksi berdasarkan tujuan penggunaan, terutama ketika masyarakat membutuhkan gambaran perbandingan ukuran dunia.
Perbedaan kedua proyeksi juga dapat terlihat ketika memperhatikan Indonesia. Karena wilayah Indonesia berada di sekitar khatulistiwa, distorsi ukuran pada Mercator relatif lebih kecil dibandingkan wilayah yang terletak jauh di utara atau selatan. Namun, ketika Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di lintang tinggi, persepsi ukuran tetap dapat berubah. Negara-negara seperti Greenland, Kanada, dan Rusia mendapatkan pembesaran visual yang semakin kuat pada Mercator karena letaknya semakin jauh dari khatulistiwa. Equal Earth membuat perbandingan tersebut lebih proporsional sehingga luas Indonesia dapat dipahami dalam hubungan yang lebih realistis dengan wilayah lain. Hal yang sama berlaku bagi sebagian besar negara Afrika, Amerika Selatan, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Karena itu, perubahan proyeksi dapat memberikan perspektif berbeda terhadap skala geografis kawasan-kawasan tersebut.
Meski demikian, Equal Earth juga bukan peta dunia yang sempurna untuk seluruh kebutuhan. Proyeksi tersebut mempertahankan luas, tetapi bentuk dan arah tetap mengalami distorsi pada tingkat tertentu. Jika seseorang membutuhkan navigasi laut atau pemetaan yang mengutamakan sudut lokal, proyeksi konformal seperti Mercator dapat lebih sesuai. Untuk peta statistik dunia yang membandingkan luas, Equal Earth memiliki keunggulan karena sifat equal-area. Sementara untuk kebutuhan lain, kartografer dapat memilih berbagai proyeksi berbeda seperti Winkel Tripel, Robinson, Mollweide, atau proyeksi yang dirancang khusus untuk suatu wilayah. Pemilihan peta pada akhirnya merupakan persoalan menentukan jenis distorsi yang paling dapat diterima berdasarkan informasi yang ingin disampaikan.
Perhatian terhadap Equal Earth sekaligus memberikan pelajaran bahwa peta datar bukan representasi bumi yang sepenuhnya netral secara geometris. Bentuk bumi tiga dimensi tidak dapat dibentangkan menjadi bidang dua dimensi tanpa mengubah setidaknya sebagian luas, bentuk, jarak, atau arah. Mercator sangat berhasil memenuhi kebutuhan navigasi yang menjadi tujuan awal pembuatannya, tetapi penggunaannya sebagai peta dunia umum dapat menghasilkan persepsi ukuran yang tidak proporsional. Equal Earth menawarkan pendekatan berbeda dengan menjadikan kesetaraan luas sebagai prioritas sehingga perbandingan wilayah lebih mendekati kenyataan geografis. Dukungan terhadap penggunaannya tidak serta-merta menggantikan seluruh peta Mercator, melainkan mendorong masyarakat memahami bahwa setiap proyeksi memiliki fungsi dan keterbatasan. Dengan pemilihan proyeksi yang tepat, peta dapat menyampaikan gambaran dunia secara lebih sesuai dengan tujuan informasi yang ingin diberikan.