Jakarta, 31 Agustus 2026 – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian pemerintah karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dalam jumlah besar. Wakil Menteri Kesehatan menyebut sekitar 10 juta orang terdampak akibat paparan asap karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap kebakaran membawa partikel halus dan berbagai zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan kesehatan tertentu menjadi pihak yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Pemerintah pun mendorong masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara memburuk akibat kepulan asap dari kebakaran hutan dan lahan.
Paparan asap karhutla dapat memberikan dampak kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang, tergantung pada tingkat polusi, lama paparan, serta kondisi kesehatan seseorang. Dalam kondisi tertentu, masyarakat yang menghirup udara dengan konsentrasi partikel tinggi dapat mengalami iritasi mata, hidung, tenggorokan, hingga gangguan pernapasan. Batuk, sesak napas, sakit kepala, serta rasa tidak nyaman pada saluran pernapasan juga dapat muncul ketika seseorang terlalu lama berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk. Risiko tersebut menjadi lebih besar ketika kebakaran berlangsung dalam waktu lama dan asap menyelimuti permukiman secara terus-menerus. Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi salah satu langkah penting untuk menentukan tindakan perlindungan yang perlu dilakukan masyarakat.
Wamenkes menekankan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla tidak dapat dipandang sebagai persoalan ringan karena jumlah masyarakat yang berada di wilayah terdampak cukup besar. Jutaan orang dapat terpapar asap apabila kebakaran terjadi di kawasan yang berdekatan dengan pusat permukiman atau ketika angin membawa asap ke wilayah yang lebih luas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban fasilitas pelayanan kesehatan apabila masyarakat mengalami peningkatan keluhan pernapasan secara bersamaan. Rumah sakit, puskesmas, serta fasilitas kesehatan lainnya perlu memiliki kesiapan menghadapi kemungkinan meningkatnya jumlah pasien. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor kesehatan menjadi penting agar masyarakat memperoleh informasi serta pelayanan yang dibutuhkan selama periode karhutla.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan khusus ketika kualitas udara mengalami penurunan akibat asap. Sistem pernapasan anak masih berkembang sehingga paparan polusi udara dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan orang dewasa dalam kondisi tertentu. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara berada pada tingkat yang tidak sehat, terutama saat konsentrasi asap meningkat. Sekolah dan lingkungan pendidikan juga perlu mempertimbangkan kondisi udara ketika menentukan kegiatan luar ruangan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi durasi paparan sekaligus memberikan perlindungan kepada siswa dan tenaga pendidik yang berada di wilayah terdampak.
Selain anak-anak, kelompok lanjut usia dan masyarakat yang memiliki penyakit tertentu juga menghadapi risiko lebih tinggi ketika terpapar asap karhutla. Gangguan pada sistem pernapasan dapat menjadi lebih berat pada orang yang sebelumnya telah memiliki masalah kesehatan, terutama ketika kualitas udara memburuk dalam waktu lama. Masyarakat perlu memperhatikan gejala yang muncul dan tidak mengabaikan keluhan seperti sesak napas, batuk yang memburuk, atau kesulitan bernapas. Jika kondisi kesehatan menurun, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan tidak terjadi komplikasi yang lebih serius. Pemerintah juga perlu memastikan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak memiliki informasi dan kesiapan yang memadai untuk menangani keluhan akibat paparan asap.
Perlindungan masyarakat dari dampak karhutla tidak hanya dilakukan melalui penanganan ketika seseorang sudah mengalami gangguan kesehatan. Upaya pencegahan juga memiliki peran penting, terutama dengan mengurangi paparan terhadap udara tercemar. Penggunaan masker yang sesuai ketika berada di luar ruangan dapat menjadi salah satu langkah perlindungan ketika kondisi udara tidak sehat. Masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan karena aktivitas tersebut dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup. Di dalam rumah, upaya menjaga agar asap tidak masuk secara berlebihan serta memastikan sirkulasi udara dikelola sesuai kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan.
Dampak karhutla juga dapat meluas ke sektor lain ketika asap bertahan dalam waktu lama. Aktivitas sekolah, pekerjaan, transportasi, dan kegiatan ekonomi masyarakat dapat terganggu apabila jarak pandang menurun atau kualitas udara mencapai tingkat yang berbahaya. Gangguan kesehatan yang muncul secara massal juga dapat meningkatkan kebutuhan pelayanan medis dan menambah beban keluarga yang harus menangani anggota rumah tangga yang sakit. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla memiliki konsekuensi sosial dan ekonomi yang lebih luas daripada sekadar kerusakan kawasan hutan atau lahan. Penanganan kebakaran karena itu perlu dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek lingkungan, keselamatan, kesehatan, serta keberlangsungan aktivitas masyarakat.
Pemerintah juga perlu memperkuat sistem peringatan dini dan komunikasi risiko kepada masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak asap. Informasi mengenai kualitas udara, arah pergerakan asap, lokasi kebakaran, serta langkah perlindungan kesehatan harus disampaikan secara mudah dipahami. Masyarakat membutuhkan informasi yang cepat agar dapat menentukan kapan harus mengurangi aktivitas di luar ruangan dan kapan perlu mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Pada saat yang sama, pengendalian sumber kebakaran tetap menjadi langkah utama karena perlindungan kesehatan tidak akan cukup jika paparan asap terus berlangsung. Pencegahan pembakaran lahan dan penegakan hukum terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko berulangnya kondisi serupa.
Dengan jumlah masyarakat terdampak yang disebut mencapai sekitar 10 juta orang, persoalan kesehatan akibat karhutla menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan. Paparan asap dapat menimbulkan berbagai gangguan, terutama pada sistem pernapasan, serta meningkatkan risiko bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan. Pemerintah diharapkan tidak hanya memperkuat pelayanan kesehatan selama masa krisis, tetapi juga mempercepat pengendalian kebakaran dan mencegah munculnya titik api baru. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan mengikuti informasi kualitas udara, membatasi paparan, serta segera mencari pertolongan apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan. Penanganan karhutla yang efektif pada akhirnya harus berjalan beriringan antara pengendalian kebakaran, perlindungan lingkungan, kesiapsiagaan layanan kesehatan, dan upaya melindungi jutaan warga dari dampak asap yang dapat mengganggu kesehatan.