Jakarta, 15 Mei 2026 – LinkedIn dikabarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 5 persen dari total karyawannya di seluruh dunia. Langkah tersebut menjadikan perusahaan milik Microsoft itu sebagai salah satu nama besar terbaru yang ikut dalam gelombang pemangkasan tenaga kerja sektor teknologi sepanjang 2026. Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, jumlah karyawan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 875 hingga 900 orang dari total lebih dari 17 ribu pekerja global yang dimiliki perusahaan.
Perusahaan disebut melakukan restrukturisasi internal untuk memfokuskan sumber daya pada area bisnis yang dinilai memiliki pertumbuhan lebih cepat. Sejumlah divisi seperti pemasaran, engineering, produk, dan Global Business Organization dilaporkan termasuk dalam area yang terdampak pemangkasan. Meski melakukan PHK, LinkedIn sebenarnya masih mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 12 persen pada kuartal terakhir, sehingga keputusan tersebut memunculkan banyak perhatian di industri teknologi global.
Gelombang PHK di sektor teknologi memang kembali meningkat sepanjang tahun ini. Banyak perusahaan besar teknologi disebut sedang melakukan efisiensi operasional sambil mengalihkan investasi besar-besaran ke pengembangan kecerdasan buatan atau AI. Fenomena ini membuat banyak perusahaan memilih membentuk tim yang lebih kecil namun dianggap lebih fleksibel dan produktif. Data dari pelacak industri teknologi menunjukkan jumlah PHK global di sektor teknologi sepanjang 2026 sudah menembus lebih dari 100 ribu pekerja dan mendekati total pemangkasan sepanjang tahun sebelumnya.
Meski isu AI sering dikaitkan dengan gelombang PHK terbaru, beberapa laporan menyebut pemangkasan di LinkedIn bukan semata-mata karena otomatisasi pekerjaan oleh kecerdasan buatan. Namun, perubahan strategi bisnis dan efisiensi perusahaan di era AI tetap dianggap menjadi faktor besar yang memengaruhi restrukturisasi di banyak perusahaan teknologi. CEO LinkedIn, Daniel Shapero, dalam memo internalnya disebut menekankan perlunya perusahaan “menemukan kembali cara kerja” agar lebih efisien menghadapi perubahan industri yang sangat cepat.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa industri teknologi global masih berada dalam fase penyesuaian besar pascapandemi dan di tengah percepatan adopsi AI. Banyak perusahaan teknologi kini lebih berhati-hati dalam mengelola tenaga kerja sambil meningkatkan investasi pada infrastruktur digital dan kecerdasan buatan. Para pengamat menilai tren efisiensi ini kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, terutama ketika perusahaan mencoba menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan tekanan biaya operasional dan perubahan kebutuhan pasar kerja global.