Jakarta, 3 September 2026 – Pemilik Toyota Fortuner bermesin diesel harus menyiapkan dana lebih besar apabila ingin mengisi penuh tangki bahan bakar setelah harga sejumlah BBM nonsubsidi mengalami kenaikan pada awal September 2026. Dengan kapasitas tangki mencapai 80 liter, biaya pengisian penuh menggunakan Pertamina Dex kini dapat menembus Rp2.016.000. Nilai tersebut diperoleh setelah harga Pertamina Dex naik menjadi Rp25.200 per liter mulai 1 September 2026. Besarnya biaya sekali mengisi tangki bahkan dapat dibandingkan dengan uang muka atau down payment (DP) untuk membeli sepeda motor Honda BeAT melalui skema kredit tertentu. Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya dampak kenaikan harga BBM diesel terhadap biaya operasional kendaraan berukuran besar. Terlebih Fortuner menjadi salah satu SUV diesel populer yang digunakan untuk perjalanan dalam maupun luar kota.
Toyota Fortuner yang dipasarkan di Indonesia tersedia dengan pilihan mesin bensin dan diesel, sementara varian dieselnya menggunakan mesin 2.4 liter 2GD-FTV serta 2.8 liter 1GD-FTV. Kendaraan tersebut memiliki kapasitas tangki bahan bakar sekitar 80 liter sehingga perubahan harga BBM beberapa ribu rupiah per liter dapat memberikan perbedaan cukup besar ketika pengisian dilakukan hingga penuh. Untuk mesin diesel, kualitas bahan bakar juga perlu disesuaikan dengan spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan. Salah satu parameter yang menjadi perhatian adalah angka cetane serta kandungan sulfur dalam bahan bakar. Karena alasan tersebut, pemilik kendaraan tidak semata-mata mempertimbangkan harga ketika menentukan jenis BBM yang digunakan. Pemilihan bahan bakar yang sesuai juga berkaitan dengan performa, sistem pembakaran, dan pemeliharaan mesin dalam jangka panjang.
Perhitungan biaya menggunakan Pertamina Dex menjadi menarik setelah harganya melonjak dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Artinya, terdapat kenaikan Rp4.050 untuk setiap liter dibandingkan harga sebelumnya. Jika diasumsikan tangki Fortuner benar-benar kosong dan kemudian diisi sebanyak 80 liter, pengendara harus mengeluarkan Rp2.016.000. Sebelum kenaikan, jumlah bahan bakar yang sama membutuhkan sekitar Rp1.692.000 sehingga terdapat selisih mencapai Rp324.000 untuk sekali pengisian penuh. Selisih tersebut menjadi cukup terasa bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi dan harus mengisi bahan bakar beberapa kali dalam satu bulan. Pengeluaran bulanan untuk BBM otomatis dapat meningkat signifikan apabila pola perjalanan dan konsumsi bahan bakar tidak berubah.
Selain Pertamina Dex, harga Dexlite pada awal September juga mengalami kenaikan cukup besar. Produk tersebut naik dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter atau bertambah Rp4.000. Jika sekadar menggunakan perhitungan matematis berdasarkan kapasitas tangki 80 liter, pengisian sebanyak itu membutuhkan sekitar Rp1.896.000. Namun, pemilik kendaraan tetap perlu mengikuti rekomendasi kualitas bahan bakar yang ditetapkan untuk mesin mobilnya dan tidak hanya menentukan pilihan berdasarkan harga paling murah. Kandungan sulfur menjadi salah satu pertimbangan khusus pada kendaraan diesel modern yang telah menggunakan teknologi pengendalian emisi lebih kompleks. Menggunakan BBM sesuai spesifikasi menjadi bagian penting untuk menjaga sistem mesin tetap bekerja sebagaimana dirancang.
Biaya bahkan dapat sedikit lebih tinggi apabila dibandingkan dengan produk diesel nonsubsidi tertentu di SPBU swasta. Harga diesel pada sejumlah jaringan SPBU berada di sekitar Rp25.420 per liter pada awal September. Dengan asumsi harga dan volume 80 liter tersebut, pengendara membutuhkan sekitar Rp2.033.600 untuk mengisi tangki hingga penuh. Perbedaan dengan Pertamina Dex memang tidak terlalu jauh untuk satu kali pengisian, tetapi dapat terakumulasi apabila kendaraan digunakan dengan intensitas tinggi. Harga juga dapat berbeda berdasarkan wilayah dan kebijakan masing-masing badan usaha. Karena itu, angka pengisian penuh tersebut lebih tepat digunakan sebagai ilustrasi biaya maksimum berdasarkan kapasitas tangki, bukan berarti setiap pemilik Fortuner selalu membeli tepat 80 liter setiap kali datang ke SPBU.
Nominal sekitar Rp2 juta kemudian menjadi perhatian karena jumlah tersebut dapat digunakan sebagai uang muka pembelian Honda BeAT melalui skema pembiayaan tertentu. DP sepeda motor tersebut dapat berada mulai ratusan ribu hingga sekitar Rp2 jutaan tergantung wilayah, dealer, program promosi, tenor, dan skema kredit yang dipilih konsumen. Dengan demikian, perbandingan tersebut lebih menggambarkan besarnya uang yang harus disiapkan pemilik Fortuner ketika melakukan pengisian penuh. Tentunya biaya Rp2,016 juta untuk BBM dan DP sepeda motor memiliki karakter pengeluaran yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung dari sisi nilai ekonominya. Uang muka kendaraan juga akan diikuti kewajiban cicilan bulanan serta komponen pembiayaan lainnya.
Kenaikan harga Pertamina Dex terjadi bersamaan dengan penyesuaian sejumlah produk nonsubsidi Pertamina mulai 1 September 2026. Selain Pertamina Dex yang menjadi Rp25.200 per liter, Dexlite naik menjadi Rp23.700 per liter dan Pertamax Turbo menjadi Rp19.600 per liter untuk wilayah seperti DKI Jakarta dan sebagian besar Pulau Jawa. Harga Pertamax tetap berada di Rp15.950 per liter ketika penyesuaian awal September dilakukan. Sementara Pertalite dan Biosolar sebagai BBM bersubsidi juga tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap Rp10.000 dan Rp6.800 per liter. Kemudian mulai 2 September, Pertamax Green 95 mengalami penyesuaian tersendiri menjadi Rp19.150 per liter. Perubahan tersebut membuat konsumen perlu kembali menghitung anggaran bahan bakar berdasarkan jenis kendaraan dan produk yang digunakan.
Pertamina menjelaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mempertimbangkan sejumlah indikator dalam formula yang ditetapkan pemerintah. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain perkembangan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, serta faktor ekonomi lainnya. Daya beli masyarakat dan kondisi sosial juga menjadi pertimbangan dalam menentukan penyesuaian harga. Karena BBM nonsubsidi mengikuti berbagai komponen tersebut, harganya dapat mengalami perubahan dari satu periode ke periode berikutnya. Perubahan harga juga tidak selalu sama untuk seluruh produk maupun seluruh wilayah Indonesia. Besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor di masing-masing daerah menjadi salah satu faktor yang membuat harga antarwilayah dapat berbeda.
Bagi pengguna Fortuner diesel, kenaikan harga tersebut membuat efisiensi berkendara semakin penting untuk mengendalikan pengeluaran. Cara mengemudi agresif dengan akselerasi dan pengereman berulang dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar, terutama ketika kendaraan digunakan di lalu lintas perkotaan yang padat. Tekanan udara ban yang tidak sesuai, muatan berlebihan, hingga kondisi mesin yang tidak terawat juga dapat memengaruhi efisiensi. Melakukan servis berkala dan mempertahankan kondisi kendaraan sesuai standar dapat membantu konsumsi BBM tetap optimal. Perencanaan perjalanan juga dapat mengurangi jarak yang tidak diperlukan sehingga biaya bahan bakar dapat ditekan. Langkah sederhana tersebut menjadi semakin relevan ketika harga per liter mengalami kenaikan cukup besar.
Dengan harga Pertamina Dex Rp25.200 per liter, pengisian 80 liter pada Toyota Fortuner kini membutuhkan dana sekitar Rp2,016 juta. Nominal tersebut memang cukup besar hingga dapat disandingkan dengan kisaran uang muka Honda BeAT dalam program kredit tertentu. Namun, biaya sebenarnya yang dikeluarkan pemilik Fortuner setiap datang ke SPBU tetap bergantung pada jumlah bahan bakar yang masih tersisa di dalam tangki. Pengendara yang mengisi sebelum indikator mendekati kosong tentu tidak harus mengeluarkan Rp2 juta dalam satu transaksi. Kenaikan harga diesel pada September 2026 tetap membuat biaya operasional SUV tersebut bertambah, terutama bagi pengguna dengan jarak perjalanan tinggi. Kondisi itu sekaligus membuat efisiensi bahan bakar dan pemilihan BBM sesuai spesifikasi kendaraan semakin penting diperhatikan.